Penjajahan-Modern di Indonesia
Penjajahan. Apa sih penjajahan itu? Akhir-akhir ini saya sering memikirkan apakah penjajahan itu. Kita, bangsa Indonesia melalui proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan oleh founding father kita Bapak Soekarno, telah bebas dan lepas dari penjajahan. Apakah hal itu menandakan kita telah merdeka secara riil?
Apabila kita mengingat sejarah, pada jaman pertengahan ketika bangsa-bangsa di bumi ini saling menaklukkan, penjajahan benar-benar terjadi di mana-mana. Bangsa Romawi yang pernah menguasai daratan Eropa dengan kaisar-kaisarnya yang ambisius. Kemudian Bangsa Hun musuh besar Romawi bersama Attila sang Hun yang membabi buta memperluas kekuasaan mereka hingga Timur Tengah. Gengis Khan dengan bangsa Mongolnya melakukan penaklukan daerah-daerah China daratan hingga Eropa. Di Indonesia juga ada Patih Gajah Mada yang dengan kegarangannya mempersatukan nusantara dengan tekad amukti palapanya. Beberapa contoh di atas memperlihatkan naluri manusia dari jaman dahulu adalah menguasai daerah lain, yang dalam hal ini bisa dikatakan daerah jajahan.
Pada jaman dahulu, suatu daerah dikatakan takluk atau terjajah oleh suatu daerah ditandai dengan daerah terjajah memberikan upeti secara rutin kepada daerah penjajah. Upeti yang lazim pada saat itu kebanyakan adalah berupa emas. Jadi inilah definisi inti dari penjajahan. Mereka memberikan secara rutin upeti tersebut kepada ibukota mereka yang adalah penjajah mereka.
Dewasa ini adalah era yang sama sekali berbeda dengan era jaman pertengahan. Era yang lebih terbuka yang memungkinkan suatu negara berhubungan dengan negara lain dengan sangat mudahnya. Era globalisasi dimana barang-barang industri dalam dan luar negeri akan berjajar dan bersaing. Perputaran barang dagangan bergerak dengan cepatnya. Keadaan Ini memungkin terjadinya perubahan bentuk penjajahan yang baru.
Di Indonesia, berbagai macam barang berasal dari negara luar Indonesia sangat mudah dijumpai di pertokoan. Elektronik, pakaian, dsb semuanya ada. Mereka menjual atau menawarkan barang dagangannya di Indonesia bukan tanpa tujuan. Tujuannya yakni uang dan pengaruh. Mengereka mencoba untuk mengeruk uang kita dan mencoba memberikan pengaruh dari negara mereka ke Indonesia baik pengaruh budaya mereka ataupun pola pikir.
Apabila kita lihat di sekitar kita banyak sekali barang-barangĀ bukan dibuat di Indonesia. Membeli barang bermerk asing, mau tidak mau, berarti kita telah memberikan uang kita kepada mereka. Apa yang mereka lakukan dengan uang kita? Ya untuk membangun negara mereka. Untuk makanan kecil misalnya, walaupun jumlahnya kecil uang yang kita sumbang untuk mereka, apabila diakumulasikan bisa menjadi besar juga. Dan inilah bentuk upeti kepada para penjajah saat ini.
Saat ini tidak sedikit orang yang membeli berdasarkan merk, walaupun kadang memiliki kualitas yang hanya sedikit lebih baik dari merk lain mereka rela merogoh kocek mereka jauh lebih basar hanya demi membeli merk tersebut. Karena ada anggapan saat ini, merk tertentu dapat menaikkan strata sosial, yang menurut saya anggapan tersebut adalah sangat tidak penting. Celakanya merk-merk produk Indonesia sudah ter-cap sebagai merk kelas 2.
Penjajahan melalui produk pun telah terjadi di mana-mana di berbagai macam produk. Kendaraan seperti mobil dan motor Indonesia sangat tidak berdaya, banjiran invasi telah terjadi yang kebanyakan adalah produk asing seperti Jepang, Eropa, Korea, Amerika, dll. Invasi ini telah membungkam perkembangan produk lokal kendaraan bermotor di Indonesia. Hasilnya adalah, uang kita melayang untuk menyumbang pembangunan negara-negara tersebut. Produk lain seperti elektronik, produk olah raga, dan beberapa produk lain pun dalam kondisi yang tidak jauh berbeda. Kadang kita ingin membeli barang tetapi tidak ada produk Indonesia untuk jenis barang tersebut. Kita harus menyadari bahwa itulah hasil invasi mereka, yaitu membungkam perkembangan industri dalam negeri.
Apabila kita lihat contoh China, mereka sangat memproteksi barang-barang apa saja yang boleh masuk di negaranya. Bahkan dalam dunia maya, raksasa Google dan Facebook pun tak sanggup menembus tembok china mereka. Mereka lakukan hal tersebut tidak lain adalah agar produk mereka dapat berkembang dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kemudian ada India, yang berpuluh tahun tetap menggunakan Bajaj mereka, walaupun bisa dikatakan relatif tertinggal dengan produk-produk serupa buatan negara maju seperti Jepang atau Eropa. Hasilnya, kini Bajaj berhasil masuk pasar Indonesia dan kita kembali tidak berdaya dengan kondisi ini.
Sungguh bijak bagi kita generasi muda penentu masa depan Indonesia jika membudayakan membeli dan mempergunakan produk dalam negeri. Dengan melakukan tersebut berarti kita telah melepaskan diri kita dari penjajahan. Uang kita tidak akan mengalir ke kantong-kantong mereka. Memajukan industri Indonesia sendiri dan mengangkat harga diri bangsa sehingga lebih terpandang oleh bangsa lain.
Kalau bisa saya simpulkan, penjajahan saat ini adalah pilihan, apakah anda mau atau tidak untuk dijajah. Jelasnya, apakah anda lebih rela memberi uang untuk negara lain atau untuk Indonesia.
PYM