_Karena Ke-Sepuluh Jariku Lebih Baik Daripada Ke-Dua Mulutku_

Kontroversi Penayangan Film Australia “Balibo” di Indonesia

Film Balibo Five Diputar Perdana di Jakarta

source : http://www.detiknews..com/read/2009/12/01/020418/1251533/10/film-balibo-five-diputar-perdana-di-jakarta

Film tentang tewasnya lima wartawan Australia di Timor Leste atau dikenal dengan nama Balibo Five telah diputar perdana di Indonesia. Pemutaran film itu disponsori oleh Jakarta Foreign Correspondents Club. Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF) belum memutuskan apakah film ini lulus sensor atau dilarang. Film yang disutradarai Robert Connolly ini mengisahkan kebrutalan tentara Indonesia yang melakukan pembunuhan terhadap lima wartawan Australia pada 1975. Para jurnalis tersebut adalah Gary Cunningham, Malcolm Rennie, Greg Shackleton, Tony Stewart, dan Brian Peters. Pemerintah Indonesia menyatakan film yang dibintangi Anthony LaPaglia ini bersifat ofensif. TNI meminta agar LSF melarang peredaran film tersebut. Namun, hal itu kontradiktif dengan penjelasan otoritas RI bahwa para wartawan itu tewas secara tidak sengaja dalam sebuah baku tembak. Menurut rencana, Balibo Five juga ditayangkan di Jakarta Internasional Film Festival (Jiffest) pada 4-12 Desember. Namun, pemutaran film yang sudah dirilis di Australia bulan Juli lalu itu tergantung izin dari LSF. Sebelumnya, pada September, Departemen Luar Negeri telah meminta pejabat tinggi Deplu bertemu dengan Menlu Australia untuk meminta klarifikasi isu kasus ‘Balibo Five’, yang tengah diinvestigasi kembali oleh Kepolisian Federal Australia (AFP). Bagi Indonesia, kasus Balibo Five sudah selesai. Melalui juru bicaranya, Teuku Faizasyah, Deplu menyatakan kasus Balibo Five tidak peru dibuka kembali, karena akan berpotensi membuat hubungan Indonesia-Australia tidak kondusif. Film Balibo Five sendiri merupakan film fiksi yang dibuat berdasarkan persepsi sang sutradara.

sementara itu……….

Pemutaran “Balibo” Dipadati Penonton

source : http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=115030

Ratusan orang memadati aula Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Selasa (8/12) malam untuk menyaksikan film “Balibo”. Film ini menjadi kontroversi, karena sebelumnya dilarang penayangannya di Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Film yang berkisah mengenai konspirasi kematian lima jurnalis Australia pada konflik Timor Leste, mengundang rasa penasaran penonton yang datang. Bahkan hingga akhir diskusi, aula GIM tampak masih dipenuhi penonton. Hingga pukul 20.00 WIB, masih ada penonton yang berdatangan. Padahal, film dimulai pukul 19.00 WIB. Bahkan, penonton yang tidak kebagian tempat untuk duduk lesehan, memilih untuk menonton dari jendela dan berdiri di belakang pintu. Karena jumlah penonton yang membludak, film ini kemudian diputar dua kali.

sementara itu……….

Indonesia ‘bans’ film on journalists’ deaths in E Timor

source : http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/8390075.stm

“Saya belum mendapat pemberitahuan secara resmi, tetapu setelah berkonsultasi dengan penasehat hukum kami, kami memutuskan hal itu akan terlalu beresiko dan dapat melanggar hukum,” JFCC president Jason Tedjasukmana. “Mereka mengatakan pada kami bahwa kami tidak boleh menayangkan film tersebut,” kataJiffest manager Nauval Yazid. “Alasan tidak jelas. Itu mungkin karena hal tersebut dapat mengganggu hubungan antara Timor Leste dan Australia.” TNI menyambut baik terhadap adanya pelarangan tersebut. “Hal itu hanya akan melukai warga Indonesia,” juru bicara militer Rear Marshal Sagom Tamboen pada Jakarta Post. “Film ini hanya akan menghasilkan kerusakan hubungan antara Indonesia, Timor Leste dan Australia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.