Hari itu Rabu, 12 Mei 2010 saya ijin untuk masuk hanya setengah hari untuk pulang ke Malang. Rencana saya adalah melewati kota yang belum pernah sama sekali saya kunjungi dan sepertinya dalam kotanya cukup menarik, yaitu kota Semarang. Pada pukul 14.45 saya berangkat dari kontrakan di Cilegon untuk menuju Jakarta. Perjalanan dari kontrakan diawali dengan naik ojek Rp.5.000 dan dilanjutkan dengan angkutan umum menuju Terminal Bayangan Cilegon Timur.
Sesampai di Cilegon Timur ada bis AC jurusan Kalideres. Saya pun naik bis tersebut dan kembali nunggu penumpang cukup lama sekitar setengah jam. Seperti biasa pengamen dan penumpang lalu lalang. Setelah sekian lama saya amati, tipikal pengamen Cilegon adalah pengamen bergaya rasta jamaican, dengan lagu-lagu band melayu, kebanyakan seperti itu. Yang menggugah perasaan saya saat itu adalah tukang semir yang masih anak-anak dengan keterbelakangan mental, dia masuk ke bis sekilas dan setelah melihat-lihat ke arah bawah, mencari sepatu yang mungkin bisa dia semir. Begitu dia melihat tidak ada yang memakai sepatu dia langsung keluar bis. Aku tidak habis pikir, dimana orang tuanya? Anak dengan keterbelakangan mental seperti itu masih saja dipekerjakan. Kemudian bis berangkat, cukup lancar walaupun ada perbaikan jalan tol sehingga bis tidak dapat melaju dengan maksimal.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan dandanan alay tiba-tiba duduk di sebelah saya. Dia berbasa-basi sebentar, menanyakan saya kerja atau kuliah dsb. Percakapan yang terjadi kurang lebih sbb:
Dia: (dia berkata pelan, seperti berbisik)
Saya: Haah?
Dia: Enggg, mau kemana mas? (Saya yakin perkataan awal tadi bukan ini)
Saya: Kalideres mas
Dia: Emang mau kemana?
Saya: Ke Senen mas, kalo mas mau kmana?
Dia: Mau ke Tanah Abang,,
Saya: Oooh,
(Dengan suara agak berbisik dia berkata)
Dia: Mas mau beli hape saya gak?
Saya: Ooh, enggak mas
Dia: Tawar brapa lah mas.
Saya: Enggak mas, lagi ga ada duit
Dia: (Mengeluarkan hape dari sakunya) ini mas barangnya masih bagus lho.
Saya: Kenapa dijual mas?
Dia: (berkata pelan) Tadi saya ambil disitu mas.. ssstt.. (sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya)
Saya: hee, enggak mas, lagi gak punya duit, (Maling amatiran ini kayanya, masa nyolong bilang-bilang, haddeeeuuuh)
Setelah mencari klien satu lagi (yang duduk di depan saya) dan sepertinya gagal, akhirnya dia pun turun sebelem sampai di Terminal Kalideres dengan tenangnya. Saya rasa dia adalah maling yang masih amatiran. Akhirnya saya sampai di Terminal Kalideres pada pukul 17.45. Setelah buang air kecil, saya melanjutkan menuju Stasiun Senen, kali ini saya melanjutkan dengan menggunakan busway. Busway pertama yang datang langsung saya masuki, kebetulan jurusan Harmoni, dengan harapan dan perkiraan dapat menghemat waktu dengan ganti jurusan Pulogadung di Harmoni. Perkiraan saya tidak berjalan mulus, ternyata busway juga kena macet, jalan setelah Roxy macet parah. Jarum jam sudah menunjukkan 18.15 tapi belum juga sampai di Harmoni, padahal kereta berangkat pukul 19.20. Dengan sedikit bersabar akhirnya saya sampai di Shelter Harmoni pada pukul 18.40. Kesan saya saat itu Woow, amazing!! sejauh mata memandang isinya orang semua. Baru kali ini saya di Harmoni dengan antrian sepanjang itu. Antrian Pulogadung hampir bertemu dengan antrian Kalideres. Gilak!!. Akhirnya saya mengambil antrian ke Pulogadung dengan ragu-ragu. Antri dengan harapan bis-bis kosong jurusan Pulogadung berdatangan dengan cepat.
18.50. Masih antri di Harmoni sekitar di kejauhan 8 meter dari pintu. Karena saya yakin, tidak akan bisa mengejar kereta apabila saya tetap naik busway, akhirnya saya mengambil langkah seribu keluar dari Halte Harmoni ini. Keluar halte langsung saya mencari ojek . Awalnya pak ojek meminta 20 ribu akhirnya dengan tawar-menawar ongkos hanya bisa turun 5 rebu. Alhamdulillah, akhirnya sampai di Stasiun Senen tepat waktu, yaitu jarum jam menunjukkan pukul 19.10. Setelah membeli nasi bungkus dan air minum, saya pun masuk stasiun, dan ternyata kereta Senja Utama jurusan Semarang sudah stand by di tempat. Perjalanan ingin saya habiskan dengan molor, tapi mata susah sekali untuk merem, walaupun akhirnya berhasil tidur meskipun hanya 2-3 jam. Akhirnya sampai di Semarang pukul 04.00 dini hari, terlambat 45 menit dari jadwal. Padahal rencana awal adalah melanjutkan tidur di stasiun, karena terlambat, jadi terpaksa langsung berangkat ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk mengejar sholat subuh jama’ah disana. Tetapi, karena saya belum pernah ke Semarang, naik apa kesana? Ojek/Taksi? Ga tau sama sekali MAJT tu jauh atau dekat dari stasiun. Akhirnya saya putuskan naik taksi. Taksi di Semarang saya rasa cukup bagus, sistem agronya jalan dan relatif murah. Akhirnya dengan uang Rp.15000, saya sampai di MAJT, walaupun ada tambahan Rp4000 dikarenakan pak supir tidak mau bayar parkir sendiri. *sigh.
Sampai di MAJT di kegelapan, tapi masih terlihat bangunannya yang indah dengan penerangan lampu minimalis membuatku sedikit merinding. Ketika saya datang bertepatan dengan muadzin yang sedang mengumandangkan iqomat, akhirnya dengan buru-buru saya mengambil wudlu dan alhamdulillah dapat jamaah walaupun masbuk. Setelah sholat, saya duduk sejenak di dalam masjid sambil mengamati ornamen-ornamen masjid, sebelum akhirnya petugas masjid mematikan seluruh lampu di dalam masjid, dan saya pun keluar. Sesampai di luar, langit masih gelap dan tidak begitu terang. Dengan badan yang lengket-lengket karena keringat akibat perjalanan di kereta, akhirnya saya mandi di kamar mandi MAJT. Setelah mandi, saya mencari saklar listrik untuk me-recharge baterei hp saya yang sudah sekarat. Setelah sekitar 30 menit saya me-recharge HP, saya kemudian menuju ke teras masjid untuk melihat bangunan masjid, saat itu langit sudah terang.

Terasa sejuk sekali di masjid saat itu. Suasana pagi hari yang cerah di dengan suara kicauan burung yang terdengar bikin hati sejuk. Sebenarnya saya agak heran, baik di dalam maupun di luar masjid kicauan burung terdengar jelas, asumsi saya, itu hanyalah rekaman, dan mungkin benar. Saya pun berkeliling kompleks MAJT dan mengambil beberapa gambar. Di kompleks MAJT ini, di pagi hari rupanya juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk melakukan aktivitas olahraga, baik hanya sekedar joging maupun bersepeda. Setelah puas berkeliling akhirnya saya pun keluar masjid.
Di halaman luar masjid banyak pedagang kaki lima yang berjualan, dan kebanyakan adalah penjual makanan. Akhirnya saya pun membeli semacam “cenil” satu bungkus dengan harga Rp.1000 saja, wow murah, saking tidak percayanya sampai saya sempat menanyakan harga 2 kali. Cukup untuk sedikit mengganjal perut, makan di depan kompleks masjid sambil melihat pemandangan pagi di Semarang.
Dari kompleks MAJT saya berencana pergi ke Kota Tua. Dari MAJT, untuk pergi kota tua bisa menggunakan bis mini yang lewat dari depan masjid langsung. Tetapi karena saat itu masih pagi dan hari libur, jarang sekali angkutan yang lewat. Akhirnya ada angkot yang kebetulan lewat disitu bertulisakan Johar (padahal bukan jalurnya). Akhirnya saya pun naik angkutan tersebut setelah menanyakan ke bapak supir.


Setelah melewati Kota Tua, angkot pun berhenti di pertigaan Mpu Tantular, sepertinya ini adalah batas terluar Kota Tua yang ditandai dengan perbatasan jalan raya dengan paving dan aspal. Kota Tua di Semarang adalah sisa-sisa bangunan kuno jaman Belanda yang masih dipertahankan kondisinya, seperti layaknya Kota Tua di Jakarta ataupun jalan Braga di Bandung. Saya rasa kota Tua di Semarang ini benar-benar “Tua”. Maksud saya, bangunan sangat terlihat tua, banyak bangunan terlihat sangat kurang perawatannya sehingga terlihat sangat tua. Saya rasa Kota Tua di Semarang sangat cocok untuk dijadikan latar untuk film bernuansa horror, karena akan sangat bagus hasilnya nanti.
“Semarang kaline banjir . . .”

Lagu itu mungkin sangat terkenal di telinga kita, yaitu Semarang sudah identik dengan banjir. Saya pun membuktikan hal tersebut di
kota tua. Mungkin malam sebelumnya hujan turun, dan saya lihat banyak sekali genangan-genangan air yang menggenang meutupi jalan
sehingga kendaraan tidak bisa lewat, sebut saja jalan Mpu
Tantular sebelah utara yang terlihat lebih seperti sungai bagi saya. Ada juga perkampungan di Kota Tua yang sepanjang jalannya tertutup oleh genangan air, kesan saya di perkampungan itu adalah “menarik”, bagai Venice versi Indonesia. Hehehe.
Setelah puas keliling Kota Tua sekitar 45 menit dengan berjalan kaki akhirnya saya melanjutkan perjalanan saya ke “tidak tahu kemana”. Di lampu merah saya duduk sebentar untuk istirahat dan kemudian melihat ada masjid, dan saya pun kesana karena saya “kebelet boker”. Itulah ternyata yang disebut Masjid Agung Semarang, terletak di dekat pasar Johar. Setelah itu saya berjalan sedikit menuju Jalan Pemuda.
Jalan Pemuda adalah salah satu jalan utama di Semarang yang terhubung langsung dengan Tugu Muda. Untungnya saya tau hal itu. Kebetulan ada bis sedang nge-tem, dan tanpa pikir panjang saya pun naik bis itu. Bisnya ber-AC, lumayan untuk istirahat sejenak. Dan untungnya bis hanya lurus dan lewat Tugu Muda, dengan membayar

Rp.2000 akhirnya saya pun turun dari Bis di Tugu Muda. Tugu Muda, salah satu landmark kota Semarang dengan beberapa bangunan yang mengelilinginya diantaranya Lawang Sewu, Museum Manggala bakti. Tugu Muda dihiasi dengan air mancur dengan air yang tidak terlalu kotor dan tidak terlalu jernih. Saat itu sedang banyak anak kecil yang sedang mandi bermain air dan mandi di sana, sungguh asyik, hehe.
Sayang sekali saat itu Lawang Sewu sedang ditutup, tidak tahu mengapa. Yang jelas, saat itu pagar seng mengitari Lawang Sewu, tidak ada orang disana. Lawang Sewu sangat terkenal dengan mistisnya, dan sayang sekali saya saat itu tidak berkesempatan kesana, hanya untuk sekedar melihat2 maupun mengambil gambar dari dekat. Akhirnya langkah saya tergiring menuju pasar bulu yang letaknya tidak jauh dari Tugu Muda. Untuk mengobati perut saya yang keroncongan akhirnya saya menemukan soto yang terletak di depan Pasar Bulu. Rasa Soto-nya cukup enak dengan nasi yang disajikan di mangkok kecil. Nasi Soto + 1 Tusuk Sate (daging) + Es Teh manis, hanya Rp.7000, senangnya.
Dari Pasar Bulu saya beranjak kembali ke arah Tugu Muda, saya melihat waktu masih menunjukkan pukul 9.30 pagi. AKhirnya dengan
spontan saya berbelok ke Museum Manggala Bhakti, yang letaknya tepat di depan Tugu Muda. Ternyata ini adalah Museum TNI, hanya berkeliling sekejap, tidak sampai 30 menit saya pun keluar. Saya keluar selain saya agak bosan selain itu juga suasananya horror, ditambah lagi saya hanya sendirian, mungkin lebih baik saya keluar. Untuk masuk Museum ini tidak dikenakan biaya masuk alias gratis.
Tujuan saya berkutnya adalah Klenteng Sam Po Kong. Setelah bertanya kepada bapak polisi akhirnya saya memutuskan pergi menuju Sam Po Kong dengan menggunakan taksi. Sebenarny dari Tugu Muda menuju Sam Po Kong bisa dengan menggunakan angkutan umum, tetapi selain jarang juga tanggung, karena dibutuhkan 3 kali ganti angkot untuk mencapai Sam Po Kong. Dan benar, dengan menggunakan taksi saya sampai di Sam Po Kong dengan tarif Rp 7500 + tips, jadi dibulatkan menjadi Rp10000.
Sampai di Sam Po Kong pukul 10 lewat. Usut punya usut Klenteng Sam Po Kong ini dibangun oleh musafir muslim Cina, walaupun saat ini masih sering digunakan
sembahyang oleh penganut Konghucu. Untuk memasuki area Sam Po Kong ini hanya dikenakan biaya Rp3000 saja. Kesan pertama saya saat disana adalah “Wow berasa
di China!!”. Ornamen-oranamennya sangat original
ditambah warna bangunan dominan menambah suasana yang berbeda. Kita juga diperkenankan untuk melakukan sembahyang. Sembahyang dilakukan didalam area sembahyang yang apabila memasukinya kita dikenakan untuk membeli Hio seharga Rp.20.000,-. Dengan membeli hio ini kita juga dapat mencoba untuk mengetahui peruntungan, maupun ramal jodoh. Karena suasanyanya yang unik, Sam Po Kong ini juga dimanfaatkan oleh para pengurusnya untuk mengambil untung dengan jasa persewaan pakaian. Penyewaan pakaian yang dimaksud adalah pakaian cina kekaisaran seperti yang kita lihat di film-film kerajaan Cina. Apabila kita ingin menyewa pakaian ditambah jasa pemotretan kita harus membayar Rp.70.000,-.
Pukul 11.30 Saya menuju berangkat menuju Jogja dengan menggunakan bis 3/4. Di tengah perjalanan, ternyata saya melewati daerah watugong, dan terlihat sebuah pagoda tepat di sebelah jalan raya. Akhirnya saya pun turun disitu setelah membayar Rp.5.000 ke kenek bis. Dan inilah yang disebut Pagoda Buddhagaya, Watugong. Tempat ini masih digunakan oleh warga sekitar untuk melakukansembahyang. Di sini rencananya akan dibangun sebuah patung budha yang cukup tinggi, yaitu sekitar hampir 15 m tingginya.

Setelah berputar-putar di sekitar pagoda, saya pun keluar untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja. Bus arah jogja langsung saya naiki tepat di depan pagoda. Perjalanan menggunakan bis menuju Jogja sangat sejuk, karena melewati kota Ambarawa – Magelang yang berada di dataran tinggi, dengan jalan di lereng Gunung Merapi sungguh menyejukkan. Hujan turun hampir di sepanjang perjalanan saya menuju Jogja. Akhirnya saya sampai di stasiun Jombor Jogja pada pukul 14.30.
Tidak tahu kemana harus pergi, apa ke Malioboro atau kemana. Kemudian, ada bis trans jogja melintas, tanpa pikir panjang saya langsung saja naik bis trans jogja itu.
Setelah bertanya-tanya kepada kenek bus trans jogja itu, ternyata bis ini sejalan menuju Candi Prambanan. Bis trans jogja menurut saya jauh lebih baik daripada Trans Jakarta. Bis trans jogja sangat teratur, setiap bis sudah memiliki jadwal pasti, maksudnya jam tertentu harus sudah berada di shelter tertentu. Setelah berganti bis pada 3 shelter akhirnya saya sampai di shelter terakhir, yaitu shelter Prambanan. Waktu menunjukkan pukul 16.00 dan saat itu hujan turun. Setelah sholat saya pun segera mencari makan, karena saya belum makan sejak siang tadi. Ternyata sore itu Prambanan telah tutup, saya pun hanya bisa menikmati bakmi jogja di warung sekitaran Pasar Prambanan.
Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00 dan saya pun kembali pergi cari penginapan. Saya putuskan untuk mencari penginapan ke Malioboro saja, karena disana tersebar banyak penginapan murah. Dari Prambanan menuju Mailoboro cukup sekali saja menggunakan bus Trans Jogja. Sesampainya di Malioboro yang saya tuju pertama kali adalah kampung Sosrowijayan untuk mencari penginapan. Dengan bantuan calo akhirnya dan atas permintaan saya, yaitu penginapan yang paling murah se-sosrowijayan, akhirnya saya dapatkan tempat menginap dengan tarif Rp.40.000 per malam, mungkin pada hari biasa tarif bisa kurang dari itu, mengingat saya kesana saat long weekend.
Setelah membersihkan diri saya pun keluar Malioboro untuk berbelanja oleh-oleh dan mencari makan malam. Setelah berbelanja dengan agak “over budget” akhirnya saya kembali ke penginapan untuk istirahat, dan merencanakan keesokan harinya untuk singgah ke Solo atau Blitar.
Pukul 06.00 keesokan hari saya bangun karena tidur nyenyak sekali, mungkin karena saya yang sudah kelelahan. Setlah mandi dsb, lalu saya check out dan langsung menuju stasiun Tugu untuk melanjutkan perjalanan ke Solo dengan menggunakan kereta Pramex yang terkenal itu. Tetapi ternyata saya terlambat, kereta Pramex baru saja berangkat dan kereta berikutnya masih 2 jam lagi. Akhirnya saya pun keluar stasiun untuk mencari
sarapan bubur terlebih dahulu. Bus Trans Jogja memanggil-manggil saya untuk dinaiki, dan tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk ke Solo via jalan darat atau bis saja. Sebenarnya saya saat itu bingung, apakah langsung ke Malang atau ke langsung ke Blitar atau ke Solo dulu. Saya putuskan untuk pergi ke Terminal Prambanan terlebih dahulu, dengan harapan disana banyak pilihan bis ke arah timur. Sampailah di Shelter Prambanan, dan saya tergoda untuk mampir ke Candi Prambanan, dengan hanya berjalan kaki sampailah saya di Candi Prambanan dengan membayar tiket masuk sebesar Rp.15.000. Berkeliling sebentar di sekitar Prambanan, saat itu banyak turis baik orang bule maupun Asia. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, matahari makin terik dan saya memutuskan melanjutkan perjalanan saya. Dari depan Prambanan langsung saya naik bis menuju Solo dengan tarif Rp.15.000. Tidak tahu mengapa perjalanan dengan manggunakan bis kali ini sangat membosankan tidak seperti perjalanan Semarang – Jogja. Mungkin itlah sebabnya kereta Pramex sangat diminati ketimbang bis yang hanya melalui bangunan di kanan kirinya yang sangat membosankan. Pengamen datang silih berganti di sepanjang perjalanan. Melewati kota Klaten, kota yang yang berdasakan pengamatan saya, pelajarnya suka sekali “nongkrong” di jalanan sambil merokok, tidak jauh berbeda dengan kota Solo.
Akhirnya saya sampai di Terminal Tirtonadi Solo pada pukul 11.30. Uang di dompet saya tersisa tidak lebih dari Rp.50.000 rupiah saja, setelah melihat papan yang bertuliskan tarif-tarif bis antarkota saya sedikit lega karena disitu tertulis Bis Solo-Blitar-Malang hanya Rp.36.000. Sebalum melanjutkan perjalanan saya sholat Jum’at terlebih dahulu. Setelah sholat jum’at saya langsung naik bis Solo-Blitar-Malang. Sebelum berangkat kondektur langsung meminta bayaran, dan saya kaget karena di tiket dituliskan tarif tiket adalah Rp.65.000. Karena uang saya tidak mencukupi, akhirnya saya pun keluar dari bis untuk mencari ATM. Menurut saya di terminal ini banyak sekali orang bertampang preman, cukup agresif pula. Di terminal tidak ada ATM, sehingga saya harus keluar mencari ATM, dan karena di Solo jarang terdapat angkot, saya terpaksa naik ojek. Dengan naik ojek, saya sedikit berkeliling Solo dengan tidak lupa mengambil uang di ATM.
Untuk perjalanan sendiri saya biasanya menyimpan ATM di tempat yang sulit terjangkau untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Uang tunai saya simpan di dompet, yang seharusnya cukup apabila saya tidak terlalu banyak berbelanja oleh-oleh.
Sampai di Terminal Tirtonadi kembali pada pukul 13.30 dan saya dengan PD-nya masuk kembali ke bis tersebut. Bis ini adalah bis terjelek yang pernah saya naiki, lebih jelek daripada bis-bis damri di Jakarta. Sepertinya dimana-mana banyak sarang kecoa plus rangka besinya yang tidak terhindar dari karat. Bis ini mengetem di Terminal ini sangat lama. Hampir satu jam saya dan penumpang lain menunggu. Mungkin karena penumpang yang tidak banyak, akhirnya saya dan penumpang lain memutuskan pindah bis jurusan Solo – Surabaya. Bis kali ini cukup baik, paling tidak ber-AC. Perut saya yang keroncongan hanya saya isi dengan tahu, itu pun tahu yang sangat kenyal yang mungkin sudah tercampur formalin.
Sport Jantung. Itulah judul perjalanan bis kali ini. Karena saya harus sampai di Jombang sebelum jam 19.00, karena itulah bis terakhir dari Jombang menuju Malang. Apabila terlambat saya harus berputar lewat Surabaya. Untungnya saya sampai di Terminal jombang tepat waktu, dan di sana sudah ada Bis Puspa Indah yang menunggu. Sebelum berangkat saya minum antimo karena perjalanan Jombang – Malang lebih parah kelokan-nya dibanding puncak. Antimo sangat manjur, saat terbangun sudah ada di Kota Batu, rasa lega karena akan tiba di kota tercinta Kota Malang.
Waktu menunjukkan pukul 21.00 saya telah sampai di Terminal Landungsari Malang. Naik angkot 2 kali akhirnya saya sampai di gapura Perumahan. Di atas jam 9 malam angkutan masuk ke perumahan sudah tidak ada. Jadilah saya berjalan kaki sekitar 1-2 km sambil menikmati malam di Malang, sampai akhirnya ada orang yang berbaik hati mengantarkan saya sampai di depan rumah. Kepulangan saya ke Malang kali ini tidak diketahui oleh keluarga saya di rumah. Alhasil saya berhasil memberikan surprise kepada keluarga tercinta malam itu.